Globalisasi yang berdampak pada perubahan sosial yang begitu cepat memberi pengaruh nyata pada semua aspek kehidupan. Peluang dan tantangan yang dihadapi umat Islam semakin kompleks, menuntut ketersediaan SDM yang memiliki kompetensi yang handal di bidang ilmu syar’i sebagai filter terhadap pergulatan pemikiran dan kebudayaan yang kian liar tidak terkendali. Umat dihadapkan kepada budaya hedonisme permisivme yang disodorkan dengan gencar oleh media-media masa dengan berbagai ragamnya.

Oleh karena itu, Yayasan Lajnah Khairiyah Musytarakah(YLKM) sesuai dengan anggaran dasarnya bergerak di bidang sosial, keagamaan dan pendidikan telah pula berperan serta menyelenggarakan pendidikan tingkat dasar dan menengah, sebuah peran serta aktif sebagai anak bangsa untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia yang religi.

Peran YLM mulai berperan dalam dunia pendidikan di mulai pada tahun 1996 dengan mendirikan Pesantren Yatim Al-Matuq di Sukabumi, yang pada awalnya pesantren ini hanya menampung anak-anak yatim yang mayoritas berasal dari anak-anak yatim Indonesia bagian timur korban bencana tsunami yang melanda pulau Ende dan sekitarnya. Pesantren ini terus berkembang dari tahun ke tahun dengan membuka semua jenjang pendidikan dasar dan menengah; MI, MTs, dan Aliyah. Bahkan sejak tahun 2015 telah dibuka pesantren khusus tahfidz yang bertujuan melahirkan hafidz-hafidz handal yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.

Pada tahun berikutnya tahun 1997 kembali YLKM mendirikan Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah yang berlokasi di Ds. Sukaharja Kec. Cijeruk Kab. Bogor. Pesantren ini telah membuka semua jenjang pendidikan dasar dan menengah, MI, MTs dan MA, bahkan tingkat RA.

Paska tsunami yang melanda Propinsi Aceh pada tahun 2004, YLKM kembali mendirikan Pesantren di Propinsi paling barat Indonesia, yaitu Pesantren Imam Syafii yang berdomisili di ds. Reuahat Tuha Kec. Sukamakmur Kab. Aceh Besar, yang membuka jenjang pendidikan tingkat menengah yaitu SMP dan MA.

Disusul pada tahun 2014 YLKM mendirikan kembali Pesantren di Bangkinang-Riau yaitu Pesantren Syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, yang sekarang sudah membuka jenjang SMP.

Jumlah santri yang belajar di pesantren-pesantren yang didirikan oleh yayasan telah mencapai hampir 2000 santri, baik putra maupun putri pada semua jenjang pendidikan dasar dan menengah. Setiap tahun dari pesantren-pesantren tersebut memuluskan tidak kurang dari 150 santri. Para alumni tersebut sebagian memiliki keingingan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan-perguruan tinggi Islam yang berkualitas. Namun perguruan-perguruan tinggi tersebut tidak mampu menampung semua alumni pesantren-pesantren yang didirikan oleh YLKM.

Atas dasar itu, Yayayasn memandang perlu dan sudah menjadi kebutuhan yang mendesak untuk segara membuka perguruan tinggi, yang salah satu tujuannya adalah menampung alumni-alumni pesantren yang didirkan oleh Yayayasan. Selain dari keingingan kuat dari Yayasan untuk berpartisipasi dalam mendidik, membina dan membangun masyarakat yang madani di Indonesia.

Maka sejak tahun 2015 Yayasan telah mempersiapkan pendirian sekolah tinggi berkualitas yang dapat melahirkan dan mencetak ahli-ahli dalam bidang syari’ah. Banyaknya kasus perceraian di Indonesia dan di Jawa Barat pada khususnya telah menjadi kegelesihan bersama untuk segera diselesaikan secara komperehensif. Maka yayasan memandang pendirian sekolah tinggi syari’ah yang mengkaji tentang hokum-hukum keluarga adalah salah satu jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi.

Oleh karena itu, Yayasan Lajnah Khairiyah Musytarakah berencana mendirikikan Mahad Aisyah binti Abu Bakar Li al-Dakwah. Mahad Aisyah binti Abu Bakar Li al-Dakwah diharapkan dapat menjadi  wadah untuk menyiapkan kader ulama yang mampu menggali Islam sesuai dengan konteks kekinian dari sumber-sumber utama: Al-Qur’an, Hadits, dan kitab-kitab ulama besar terdahulu. Pola-pola pendidikan tinggi Timur Tengah untuk itu banyak dipedomani. Selain itu dengan keberadaan Mahad Aisyah binti Abu Bakar Li al-Dakwah ini diharapkan tradisi kepesantrenan dapat dilanjutkan dan tidak terputus begitu saja bersamaan dengan selesainya santri dari pendidikan pesantren. Hal ini merupakan respon dari berbagai elemen umat Islam terhadap fenomena yang dihadapi oleh institusi pendidikan Islam di Indonesia sebagai mana disebutkan di atas.

Bahwa Mahad Aisyah binti Abu Bakar Li al-Dakwah sebagai perguruan tinggi yang mandiri, dalam menyelenggarakan fungsi, tugas dan tanggung jawabnya berpedoman pada STATUTA.  Karena itu, disusunlah STATUTA Mahad Aisyah binti Abu Bakar Li al-Dakwah yang berfungsi sebagai pedoman dasar  untuk  merencanakan,  mengembangkan program dan penyelenggaraan kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi serta rujukan pengembangan peraturan umum, peraturan akademik dan prosedur operasional yang berlaku.